Selasa, 21 Agustus 2007

MAAF…SAYA MENGHAMILI ISTRI ANDA

Disadur dr web.http://arios.wordpress.com/2007/08/15/feel-like-im-fixin-to-die-rag/
Rabu 23 Agustus 2007 in Antara Kita, Kata-kata, Industri, Kesehatan, Lingkungan

Di milis film lagi heboh soal film “Maaf,…” yang dipaksa ditarik dari peredaran di Makassar. Dengan alasan, “judul film sangat bertentangan dengan budaya kita di Makassar”, ini adalah potongan bunyi pesan yang diterima oleh pihak produser dari SENAKKI (Sekretariat Nasional Kine Klub Indonesia) Makassar.

Owalah. Maaf, Saya Menghamili Istri Anda. Maaf, Saya Menghamili Istri Anda. Maaf… Apa yang salah ya dengan judul itu? Saya setuju dengan pendapat sineas Joko Anwar yang berkata bahwa “alangkah mengerikannya kondisi negeri tempat kita berproduksi, kalau orang-orang dalam organisasi tempat orang-orang cinta film bisa menyerang film, apalagi karena judulnya.”

Kenapa dari dulu tidak ada yang memrotes judul-judul film seronok seperti “Perawan di Sarang Penyamun”, “Ranjang Cinta”, “Gairah Terlarang”, “Gejolak Nafsu”, dll yang masih sering tayang di Lativi itu. Maksud saya, bukannya kalau memang semua orang pemerhati moral yang sekarang tiba-tiba banyak sekali muncul itu sudah perhatian betul sama moral, mestinya dari dulu dong mereka sudah komplen sama judul sekeras sekarang. Ke mana ya orang-orang ini dulu?

Memang sih, para bintangnya sudah ada yang pada tobat seperti Ineke Koesherawati dan Reynaldi yang sekarang agamis pisan, tapi …tetap saja, pertanyaan saya, ke mana orang-orang yang suka protes ini dulu? Film-film “berbahaya” itu justru ditayangkan bebas di bioskop-bioskop yang sangat affordable. Tanpa kursi yang jadi kontroversi dan bisa diakses sama siapa saja asal mereka bawa uang.

Hm. Kenapa juga sampai sekarang tidak ada protes keras untuk menurunkan dan protes anti sinetron pembodohan dan kekerasan yang justru bisa diakses kapan saja asal remote dan listrik nyala? Apa mungkin orang-orang itu menganggap apa yang bisa dilihat di sinetron lebih sesuai dengan budaya mereka? (jeng-jeng!!!!! kamera ECU pada wajah wanita yang melotot dan mengumbar emosi)

Nggak asik. Saya koq rindu sama dunia dan industri perfilman zaman dulu. Zamannya Sally Marcelina masih megang dan Ryan Hidayat masih nafas. Cerita lebih beragam dan Marissa Haque dan Meriam Belina nggak malu main buka-bukaan “sesuai tuntutan peran” (begitu dalih diplomatis mereka biasanya). Kayaknya semua pada lebih film gitu, lhoh. Akting ya berkarya dan berekspresi. Tanpa pretensi dan gengsi-gengsi. Judul juga bisa lebih jujur walaupun terdengar syur. Penonton dan masyarakatnya juga lebih asik dan tidak munafik menerima keragaman. Lebih apresiatif, gitu. Ke mana ya orang-orang ini?

Terus kalau siapa saja bisa berkoar-koar memaksa pihak bioskop untuk menurunkan film yang ditayangkan hanya karena sekelompok masyarakat berkeberatan, bagaimana dengan filmmakernya? Bagaimana dia melindungi dirinya? Ke mana dia harus minta bantuan? Lewat jalan hukumkah? “Jalan damai” kah? Atau apa?

Hhh…memang lagu Ebiet G. Ade sudah paling tepat menjawab dan menjelaskan semua pertanyaan yang bergema, kepada rumput yang bergoyang…du du du du du du du du du duuuuu…du du du du…du du du du…du du du du….

Source : blog Blitz Megaplex
Ditulis oleh harisx
Disimpan di Advertising and Consumerism, Opinion